Majestic keadilan
Buarrrr!!!, suara-suara hempasan kursi menggelegar seantore kelas, terbang saling menyambut, saling membalas. Cicak langganan loteng atap kami terperanjat mencari perlindungan. Kucing garong mata keranjang penghuni gedung loncat indah dari lantai dua karena stress dengan kegaduhan.
Semua kacau balau. Kursi-kursi terbang dengan kecepatan penuh, menyasar target barikade rival. Sapu dan kemoceng juga tak tinggal diam, ikut lepas landas mendarat gigih ke area lawan. Lontaran keras dari masing-masing kubu memperpendek umur inventaris kelas.
Pagi itu gaduh sekali. Sengit dan penuh amarah. Semua anggota di kelas terpecah belah menjadi dua kubu. Layaknya perhelatan sengit demokrat dan replubik di rapat kongres atas isu Trump Wall di Mesiko. Jika para senator berkuasa penuh atas jalannya sidang, di status quo kami malah digiring oleh Anarkist.
Masing-masing kubu membuat markas perlindungan bermodal meja belajar yang disusun guna menghalau serangan brigade musuh. Berbentuk cekung seperti payung agar lingkup pertahanan lebih efisien dan kokoh.
Akar dari Chaotic ini adalah perhelatan sengit kami mengenai motif Hitler menyetop invasi Dunkrik tahun 1940. Yang kala itu adalah agenda besar Pengevakuasian 350.000 tentara gabungan Inggris dan Prancis yang tercatat sebagai sumber daya vital perang dunia II berhasil terlaksana melalui taktik terselubung operasi Dynamo. Melabuhkan ribuan tentara dengan mekanisme menakjubkan dari pesisir Dunkrik ke dataran selatan Inggris. Tapi yang paling mencenangkan adalah ketika jarak pasukan Jerman yang siap menyerang tinggal selemparan jarak lontaran meriam dari kawasan kota Dunkrik tapi, atas perintah misteri Adolf Hitler, memutuskan untuk menggagalkan invasi. Tercatat dalam sejarah bahwa perintah Hitler kala itu masih menjadi misteri terbesar Perang Dunia II.
Persekutuan kubu di kelas kami, secara alami, didasari geopolitik susunan meja kelas. Dua kolom bangku yang bertepian menghadap jendela belakang gedung datang dengan argumentasi Motif Militer dengan premis kawasan Dunkrik saat itu sangat tidak dimungkinkan dilewati oleh infanteri German dan usungan strategi blitzkrieg (perang kilat) akan berakhir sebagai kesia-sian. Namun anggota kelas yang bertolak bangku dengan mereka yang otomatis menjadi kubu oposisi, berpendapat bahwa penyetopan invasi karena pertimbangan kesamaan Ras yaitu Inggris dan German berasal dari ras Germanic, hingga menimbulkan simpati dengan pengevakuasian yang dimana ini adalah pandangan Motif politik.
kala itu cuma bertiga yang mengisi bangku tengah paling belakang, yaitu mereka yang menyatakan netral. Dua diantaranya adalah filsuf kawakan kami: Ojan the conquer dan Burhanuddin the great. Mereka sadar diri bahwa posisi filsuf dalam perang bentrok pemikiran musti bersikap netral dan berpandangan objective. Mereka pantang terlibat dengan Konflik, karena menginterupsi dan memberhentikan jalan debate akan mengguncang anuggrah terbesar umat manusia yaitu"Tukar pendapat"
Tapi di tengah situasi yang mulai memanas, sosok orang ketiga di pihak netral tak tinggal diam.
BUARRR. Suuara hempasan kali ini terdengar lebih keras. Memberi efek kejut yang memekikkan telinga. Tunggu! itu bukan kursi ataupun meja yang berdebum! Tapi........ gemetar sambil menoleh ke arah sumber bunyi. Seluruh mata tertuju ke bangku paling belakang. Sontak kedua kubu pecut terdiam. Semua kaku bergeming dan sebagian terbit muka pucat, Putih macam mau meninggal. Fatal sekali! Mereka baru saja membangunkan Singa dari hebrinasinya.
Mereka terlalu lama larut dalam sensasi konflik tanpa menyadari ada The Bishop yang diam mengawasi. Terlambat! mereka sudah terlanjur memantik api amarah - yang sebentar lagi berbuah letusan dahsyat, mengguncangkan dan meluluhlantahkan kelas. Di ujung mata singa itu telah berkobar bendera perang. Singa itu adalah Ozi.
Ozi adalah kawan kami yang paling sepuh. Namanya berada jajaran papan atas yang patut diberikan respect, bukan karena tuanya atau janggut yang lebat, tapi karena prinsip keadilan yang dia junjung tinggi. Pijakan kakinya yang kokoh, artikulasi bicaranya yang tenang dan tegas, serta kehati-hatiannya dalam berbicara menandakan orang ini penuh hikmat dan kebijaksanaan.
Di kelas, Ozi tak begitu terkenal jika dibanding Burhanuddin the great dan Ojan the Conquer. karena isu personal branding dari Ozi yang menolak untuk show up di Publik. Bagi mereka sejarawan yang mengulas tokoh berdasarkan popularitas tak akan bisa mengulik siapa Ozi sebenarnya, karena baginya, cuma ingin di kenal oleh penduduk langit.
Diitengah kekacauan yang berkepanjangan kala itu, mendadak reda seolah sejarah konflik kelas itu tutup usia. Angin alam mulai merenggek masuk ke dalam seakan tau bahwa peperangan telah usai. Ozi berjalan pelan ke depan kelas. karismanya membuat kami segan meneruskan problematik, seolah sosok fenomenal Arthur Henderson sang penerima Nobel perdamaian 1934 dengan jasanya peluncutan senjata di Jenewa mentahtakan pengaruhnya di kelas kami.
Mulai saat itu, walaupun dengan emosi yang hampir meletup, Ozi mengucapkan seuntai perintah perdamaian bagi semua. Meminta agar argumentasi kedua belah pihak dibiarkan melalang buana demi menghidupkan roh diskusi ilmu, dengan syarat harus di koridor adab dan hormat
Damai!
Kawan kami; Ozi the Below
Komentar
Posting Komentar