Postingan

Kampung Halaman

 “It’s game changing!!!” teriak sanubari Budi saat tiba di tanah rantauan. Getir hati Budi meneguhkan jasmani dan kewarasannya. Berputar-putar hingga jungkir balik hatinya mencoba menenangkan. Seolah dualisme raga dan jiwa Budi sedang memberontak satu sama lain atas ketidakpastian yang pelik. Sungguh, jauh dari ibu pertiwi telah merongrong keteguhan dirinya. Budi diam tak karuan sambil memandang jendela kost. Menatap refleksi dirinya sendiri. Lama Budi berdiam di sana, seolah dirinya tenggelam di kesendirian yang kelam. Saat menatap matanya yang penuh dengan keresahan. Terkenang ribuan nostalgia jauh di kampung halaman, teman sejawat, kerabat, orang tua dan suara azan indah yang berkumandang 5 kali sehari itu. Saat suara sayup-sayup keramaian jalan kota kembali terdengar. Budi reflek memandang jauh ke ujung jalan di bawah sana. Bukan ke perempatan lampu merah atau toko francise nan mewah, Tapi melayang pikirannya ke nun jauh di sana! Kampung halamannya. Jauh jaraknya untuk bers...

Majestic keadilan

Buarrrr!!!, suara-suara hempasan kursi menggelegar seantore kelas, terbang saling menyambut, saling membalas. Cicak langganan loteng atap kami terperanjat mencari perlindungan. Kucing garong mata keranjang penghuni gedung loncat indah dari lantai dua karena stress dengan kegaduhan.  Semua kacau balau. Kursi-kursi terbang dengan kecepatan penuh, menyasar target barikade rival. Sapu dan kemoceng juga tak tinggal diam, ikut lepas landas mendarat gigih ke area lawan. Lontaran keras dari masing-masing kubu memperpendek umur inventaris kelas. Pagi itu gaduh sekali. Sengit dan penuh amarah. Semua anggota di kelas terpecah belah menjadi dua kubu. Layaknya perhelatan sengit demokrat dan replubik di rapat kongres atas isu Trump Wall di Mesiko. Jika para senator berkuasa penuh atas jalannya sidang, di status quo kami malah digiring oleh Anarkist. Masing-masing kubu membuat markas perlindungan bermodal meja belajar yang disusun guna menghalau serangan brigade musuh. Berbentuk cekung sepert...

Asistent Burhan yang super epic

Fantastis! terminologi amatiran antara Gila, Stress dan Cinta mempunyai deskritif yang tak jauh berbeda, sabda Filsuf kawakan kami Ojan. Entah khayalan apa yang menyergapnya sekarang tapi 3 kata sifat diatas telah disetir sejadi-jadinya. Merenung, meracik, membumbui dan Boom! dunia gempar dengan resep filsufnya yang kali ini membuat semua orang menelan pil pahit APC.  Track record dalam mempersulit keadaan dan mensimplikasi hal absurd memang melalang buana hingga ke benua seberang. Di iringi reputasinya yang blak-blakan, Ojan sangat teguh prinsip berselimut mental baja. Ojan berdiri di front terdepan menentang ahli linguistik yang berani mendebatinya dan Membuka simpul tangan seolah cuma dia yang didunia ini yang memegang Hak Veto tertinggi memelintirkan definisi yang obsolute. Kami semua di kelas mafhum. Karir filsufnya ini berakar dari kisah tragis yang menimpanya sejak zaman bahula yang membuatnya selalu terpuruk dan tersungkur di lobang yang sama yang tiada lain,  tiada...

Ketua Kelas Kami

Gambar
Di jalanan lenggang menuju kost bersama motor butut peninggalan purba dengan kemampuan 10 kali engkol, Burhan mengelus-elus dadanya dengan napas tersengal selepas melakukan manuver gesit di pertigaan. Ditiliknya kaca spion tuk memastikan semua baik-baik saja. Tangannya yang bersimbah keringat dingin karena hampir menemui nasib meet and great dengan malaikat maut mencoba untuk relax, menggenggam pedal lebih kuat, dan mempertajam konsentrasi supaya lebih waspada. Di pertigaan sial tadi mungkin menjadi hari paling mendebarkan, menjengkelkan sekaligus mencerahkan bagi Burhan. pasal emak-emak tak tau diri yang dari kejauhan 30 meter sebelum pertigaan belok ke kanan secara mendadak padahal lampu sein ke arah kiri. Burhan yang sudah berniat belok kanan mendapat suprise dari emak-emak sein kiri yang tak tahu menahu.  Tapi Burhan bukanlah manusia perempatan yang akan sumpah serapah menghamburkan kosakata kebun binatang lengkap dengan nama latinnya. Justru, sekalipun hampir menjadi korban ...

Nasib Malang Burhan

Di pojokkan kamar kost, duduk tersungkur, loyo bergerak, Nasib malang menimpa Burhan, seorang bocil perkuliahan yang sedang memasuki masa pubertas yang jalannya masih lenggak-lenggok, suka tersenyum sendiri dan terlalu eksentrik. Burhan, semasa SMA, sebelum bersentuhan candu dengan sosmed. mengenal dirinya sendiri adalah sosok panutan, bahagia, paling lurus hidupnya, dipuja dan dipuji —entah atas apresiasi apa. itulah tabi'at pikirannya yang sesat. dia mengaku, sikap sekoyong-koyong pede'nya ini semacam didukung oleh senyuman bohai para gadis kelas setiap kali dia kena hukum keliling lapangan sekolah. Sebenarnya lambungan pujaan yang dia sematkan ke dirinya sendiri sangatlah banyak, dari eksentrik, playboy, genius, loyal, gagah, dll. tapi demi kebutuhan biograpi diri dan bahan perkenalan, Burhan meringkasnya menjadi 'Tampan dan pemberani'. Namun tiap sobekan kalender tanggal perlahan menapaki pase perkuliahan, ternyata semua harapan blak-blakannya selama ini cuma halus...

Ugoi

  UGOI Terlelatak di kost-an sederhana jauh menembus basement sempit ukuran 4 x 4, panas gerah minim sirkulasi udara, dan diterangi lampu redup lanjut usia. 4 sekawan metroseksual. mahasiswa tingkat akhir. duduk bersila beralas tikar, ditemani kopi hitam berselang pisang goreng. sedang serius-seriusnya merencanakan agenda besar. Seolah masa depan umat sedang dipikul, hingga pisang goreng yang difungsikan sebagai media silaturahmi dipakai untuk booster adu mulut menggali solusi. Malam itu adalah penentu rencana akbar mereka, blue print prosuderal dan tahap-tahap dalam bertingkah dan pastinya semua harus terlaksana secara sistematis! apa gerangan sebenarnya? Gerombolan pemuda paruh baya mau membujuk sahabatnya yang malas Sholat. Di waktu yang bersamaan Nun jauh di sana. di perumahan kayu pinggiran ibu kota. jabuk lantai kayunya, sedikit bocor di ruang depan jika hujan deras menerpa. Ugoi si bujang perjaka seperantaran umur mahasiswa abadi, dengan postur membungkuk, sedikit berlemak, ...