Nasib Malang Burhan

Di pojokkan kamar kost, duduk tersungkur, loyo bergerak, Nasib malang menimpa Burhan, seorang bocil perkuliahan yang sedang memasuki masa pubertas yang jalannya masih lenggak-lenggok, suka tersenyum sendiri dan terlalu eksentrik. Burhan, semasa SMA, sebelum bersentuhan candu dengan sosmed. mengenal dirinya sendiri adalah sosok panutan, bahagia, paling lurus hidupnya, dipuja dan dipuji —entah atas apresiasi apa. itulah tabi'at pikirannya yang sesat. dia mengaku, sikap sekoyong-koyong pede'nya ini semacam didukung oleh senyuman bohai para gadis kelas setiap kali dia kena hukum keliling lapangan sekolah. Sebenarnya lambungan pujaan yang dia sematkan ke dirinya sendiri sangatlah banyak, dari eksentrik, playboy, genius, loyal, gagah, dll. tapi demi kebutuhan biograpi diri dan bahan perkenalan, Burhan meringkasnya menjadi 'Tampan dan pemberani'.

Namun tiap sobekan kalender tanggal perlahan menapaki pase perkuliahan, ternyata semua harapan blak-blakannya selama ini cuma halusinasi kerad nan kosong, gelap gulita tak berujung, menipu dan mencekek. tepatnya saat Burhan memasuki awal perkuliahan, saat mulai mencoba memperluas networking, dirinya berkenalan erat dengan Sosmed dan mulai menjalarinya untuk ajang cari sensasi. karena belum terbiasa menghirup kebengisan Netizent +62, Burhan pecut oleh komenan akun amatir yang terlalu jujur, menusuk, tepat sasaran dan mayoritas. dan lebih parah lagi ternyata yang memberikan komen adalah para sejawatnya dulu saat massa SMA. Memang malang, rasa pesimisme dan kosong tujuan hidup menerpa korban ketulusan masyarakat tak menyentuh ini yang datang menyerbu bagai ombak yang besar. dimintanya pendapat sahabat karibnya itu, malah memperburuk malang nasibnya.

'Janganlah kau sedih Bur, dunia baru membuka 60% kejujurannya' tanggap sahabatnya dengan tulus

Sedih bukan kepalang, seluruh kompilasi eksentrik yang dia pupuk sejak SMA mulai tergerus, rasa insecure yang dulu selalu minggat, sekarang datang menggrogoti. sungguh, atas pengakuan berlebihannya dengan keadaannya sekarang, dia tak ayal bagai buih di samudra yg luas terombang ambing tak tau arah. sampai ketitik penuh drama sinetron, burhan merasa dia tak layak mendapat tempat hidup di dunia ini. malang sekali nasibnya.

<<<<<>>>>>>

sebenarnya semesta tak tinggal diam, di maha kekuasaannya yang tak terbatas, bergerak tak terendus. di sebuah etalase panggung maha besar yang disebut sebagai Dunia ini, semesta sudah menyusun scenario indahnya untuk membangkitkan bocah ini dari keterpurukan. Di tengah tipuan dunia yang selalu menginjaknya tanpa ampun, di kisah ini, ujian nestapa Burhan tak sedramatis yang dia kira. masih ada harapan!. Nun jauh di sana, jauh tempat dan lampaunya waktu, kembali ke masa SMA, saat hukuman Burhan mengelilingi lapangan masih tersisa 2 mil jauhnya, di antara puluhan senyuman palsu para gadis kelas menyorotinya. semesta masih mengasihani Burhan yang banyak tingkah ini. layaknya takdir tuhan untuk membuat para hambanya untuk berpasang-pasangan, di pojok kelas itu, Gadis berambut pendek, kulit putih, pesek hidungnya, cantik parasnya, diam perilakunya, gadis bernama Dinda, tersenyum kagum memperhati Burhan dari kejauhan. rasa suka itu jauh terpendam di lubuk hatinya yang paling tulus. benih cintanya bukan bersumber dari eksentrik dan muka buriknya Burhan, tapi lebih filosofis dari itu, baginya, karena Burhan selalu bertingkah apa adanya.

Sungguh luar biasa kisah Dinda yang mencoba mendekati Burhan ini. 3 tahun di sekolah yang sama, namun berbeda kelas, Dinda sudah membenam rasa kagumnya itu semenjak memasuki dunia SMA, tepat ketika sifat eksentriknya Burhan mulai meresahkan penghuni pohon pisang belakang kelas. kala itu Dinda tertegun gemetar melihat kemustahilan di depan matanya, di pagi hari, dilapangan luas sekolah, murid berbaris terpogoh-pogoh mengambil sikap tegap di depan senior Mosba, lari terpuntal-puntal dari pintu gerbang sekolah karena senior galak mulai menghitung mundur waktu. diantara rombongan yang lari terbirit-birit itu Sosok hitam dekil, wajah burik, berlari sesak napas di barisan terakhir, menyisakkan dirinya sorang. adalah Burhan yang satu-satunya murid baru yang terlambat oleh hitungan mundur senior galak.

"Hey kamu" senior galak nyaring menunjuk pemuda dan kewalahan tersengal-sengal itu.

"iya kamu, kamu siapa nama mu!!!' tunjuknya lagi lebih tegas.

"Burhan Pak, eeh Bang" jawab Burhan dengan sikap tegap, nyaring, sambil perlahan menghirup oksigen.

"aku bukan bapak mu, dan bukan abang kopi di perempatan jalan!"

diam burhan tak terbetik

"panggil kami senpai, kau ingat itu S-E-N-P-A-I" muncrat liur senior mengeja sebutan barunya itu

"siap, panggil Senpaii" jawab Burhan, dengan suara normal dan lantang

"Baguss, sekarang, Burhan kenapa kamu terlambat. hah!!!" suara intimidasi dari senpai galak muncul

"Siap, ketiduran, Senpai" dengan raut muka polos tak berdosa, jawab burhan dengan jujur

masam bukan kepalang muka senpai dengan jawabannya.

"Oouu Bagus, bagus, saya suka itu, kamu baru bangun, sekarang kamu jalan jongkok keliling kantor 10 kali!!!"

"Siap, keliling kantor 10 kali!!!!"

Dinda terkejut, jawaban polos seperti itu cuma bisa diucapkan oleh professional dungu dengan sepuluh tahun pengalaman, dan pemuda ini, mengalir deras terobos lampu merah, tanpa jeda, tanpa ragu, berkata apa adanya. jika dia sedikit pintar berbohong, mungkin rasa iba' Senpai bisa terpecik santuynya ke Burhan, mengingat mukanya yang lusuh pertanda mutlak orang pinggiran, dia patut dikasiani. Burhan tulus mengungkapkan kenapa dia terlambat, karena dia apa adanya.

Selama 3 tahun lamanya, Dinda mencoba tuk mendekati Burhan, dia bimbang, dan Dinda berspekulasi bahwa pikirnya, karena prinsip Burhan terlalu kuat, sebuah perkenalan basa-basi mungkin tak akan membuat dia terpikat. maka Dinda mencoba hal lain, yang terbesit saat itu adalah berkirim surat, sekalipun tak efficient, tapi cara tua ini adalah selera romantisme dan keseriusan, karena dulu Romeo and Juliet pantang mundur saling berkirim surat. Tapi sayang beribu sayang, 3 tahun lamanya berlalu, setelah ribuan kertas habis terlimbas, tak satu pun surat berhasil sampai ke tangan Burhan. bukan karena Dinda punya kesempatan, tapi terlebih, Dinda tak tau harus mengungkapkan rasa kagumnya harus seperti apa. Burhan yang bersikap apa adanya, pasti ogah menerima surat yang panjangnya minta ampun, sepanjang 1 bab pelajaran, dan Dinda cemas jika suratnya akan berakhir tergumpal di bak sampah.

Jika Burhan dilanda rasa cemas oleh warga sekampungan, Dinda bisa sedikit lebih rasional, dia cemas akan satu orang, siapa lagi kalo bukan Burhan, yang namanya tidak terlalu penting berada di daftar RT, minus kontribusi, lenggak-lenggok tak tau arah, dan mungkin harga ginjalnya pun setara dengan rokok sebungkus di black market.

4 tahun berlalu perlahan. di tahun awal masuk dunia perkuliahan. Dinda belum juga surut menggumi Burhan, walau fisiknya lemah memohon tuk berhenti dari kegilaan ini, hatinya tetap bersikukuh tampa pamrih. hingga suatu saat, setelah berkontemplasi memikirkan isi surat ber jam-jam sepanjang pagi di kostnya, menatap kosong ribuan surat gagal yang dia niatkan tuk kirim ke sosok yang dia kagumi berserakan di samping meja belajarnya. Dinda menyadari suatu hal yang dia lewatkan, betapa bodohnya dirinya selama ini, hardik dirinya atas kelalaiannya, bangkit dari tempatnya. raut wajah Dinda mulai terukir girang, tercerahkan!!... Brilliant! , tak ada ombak tak ada angin, seolah semesta ikut campur tangan terlibat di drama ini, langit mendadak cerah menghapus awan, suara jangkrik hutan serempak berhenti, mendung yang tadi perlahan datang dari ufuk timur kompak memohon tuk balik arah. Dinda terdorong oleh kekuatan ghaib untuk mengambil sepucuk kertas baru dan pulpen yang tergelatak. penuh semangat menggoreskan tintahnya di atas kertas. 1 dan 2 kalimat ter-orkestra dengan mantap di atas kertas. sekarang Dinda optimis karena telah menemukan formula yang tepat.

cukup tulis apa adanya!

<<<<

Tok, Tok !!!. buyar lamunan Burhan seketika mendengar ketokan suara bapak kost dari pintunya. eeh bukannya pembayaran bulan ini jatuh tempo pada esok lusa?

"ini ada paket" ungkap bapak kost, sambil menyodorkan kotak dus berstlepes lem bening

"dari sopo pak?" tanya Burhan heran, perlahan menerima dus itu

"tadi ada perempuan, tak tau lah aku, tak ada nama tak ada alamat, nihh ambil sana kau!, jangan lupa dengan bayaran kost esok lusa!!!"

"siap pak boss, esok lusa castttttt"

sipit mata burhan menyelidik bapak kost yang jalan menjauh dari daun pintu. Burhan beranjak masuk menutup pintu, kini mata Burhan fokus tertuju pada kotak kardus yang dia pegang. tumben ada yang mengirim paket, bukannya emak selalu datang ke kost jika uang mulai menipis?, Hhmmm. karena tak mau ambil pusing, Burhan mengambil gunting guna memotong steples yang melilit-lilit, membuang sisa yang masih menempel dan mulai membuka "wahh, ada kardus di dalamnnya" terkejut burhan, karena dalam kardus itu ada kotak lagi, burhan mulai membuka kardus kedua yang juga berbalut stepes melilit tanpa ampun "Heehh? ko' ada kotak lagi dalamnya" naik pitam burhan dengan dengan kotak-kotak ini. setelah kotak yang ke-7 tersembunyi melapisi ke bagian dalam kotak dus paket ini terbuka, dia lagi-lagi menemukan kotak. namun di kotak 8 yang seukuran genggaman tangan, ditiliknya, kotak ini kayanya adalah kotak terakhir, terlihat dari cover kotak yang berbeda dari 7 kotak sebelumnya, unik dengan warna kontras dan bersinar terkena cahaya. saat dibukanya kotak terakhir, Burhan menemukan sepucuk surat terlipat rapi di dalamnya. Segera dibukanya kertas yang agak mengkilap.

Dear Burhan

Tidak bermaksud lantang, mengirimi mu surat tanpa menanda alamat dan nama pengirim. aku hanya ingin kau tau bahwa aku mengagumi mu. aku kagum dengan sifat mu yang 'apa adanya' selalu terlihat sederhana, murah senyum, dan tidak munafiq. dulu aku hampir beranggapan bahwa kamu tak ada bedanya dengan kebanyakan orang. senyum di depan tapi menjatuhkan dari belakang. bersikap heroik melambai sikap ikhlas, ternyata berharap pujian dan imbalan. Dan kau Burhan, engkau sungguh berbeda.

jika engkau membaca surat ini. aku cuma pinta satu hal kepada mu.

tetap menjadi 'apa adanya'

Your hidden admirer

celemotan mulut Burhan mencomat camit kalimat terakhir, karena dapat nilai 2 di bahasa inggris, dan memastika ke akuratan makna, Burhan salin kata itu di google translate, "seorang pengagum tersembunyi mu" sontak, Burhan terkulai dengan kalimat tersebut. badai gemuruh yang tadinya 25/8 memenuhi lorong hatinya, terusir oleh terik matahari menyinarkan cahaya kesejukan, Banjir berisi rasa stress menenggelamkan harapan, kini surut tak menyisakan setetes pun dan senyum yang dulu minggat tak betah, sekarang datang menggandeng Burhan tanda kembali betah.

setelah move on dari moment keterpurukan yang akut, Burhan akhirnya perlahan tapi pasti mendapatkan kepingan kepingan pelajaran hidup sederhana tapi banyak luput oleh manusia zaman kini. bahwa ummat manusia sudah dinina bobokan oleh ilusi munafik yang bertebaran di jagat maya, yang setiap scrollnya memanjakan mata, berita-berita liarnya membuyarkan pikiran untuk menghakimi, dan memberatkan langkah kaki tuk mencari yang haqqi. juga tak luput dari interaksi social yaitu 'wajah bermuka' dua untuk berkolega, menjalin koneksi bahkan membangun keluarga, sudah menjadi asupan sehari-hari. karena menjual dan menjanjikan, yang dulunya haram sekarang menjadi gizi sandiwara bahan bakar hidup.

<<<<>>>>>

di tengah hiruk piruk kota, di antara suara kenalpot yang memekkan telinga dan bau tak sedap sampah menusuk hidung. Burhan berjalan ke kampus dengan hati nan tenang minim obsesi. 2 bulan berlalu setelah terkekang oleh keterpurukan. senyum Burhan terlihat makin betah, ingin tinggal lebih lama lagi. Burhan sudah berdamai dengan segalanya. di hatinya sekarang selalu memegang teguh makna hidup yang haqiqi, yaitu hidup tak ayak seperti berjalan solid mengikuti trel yang sudah diprosuderalkan oleh sang maha kuasa sementara diluarnya? cukup dijalani apa adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ugoi

Asistent Burhan yang super epic

Majestic keadilan