Ketua Kelas Kami


Di jalanan lenggang menuju kost bersama motor butut peninggalan purba dengan kemampuan 10 kali engkol, Burhan mengelus-elus dadanya dengan napas tersengal selepas melakukan manuver gesit di pertigaan. Ditiliknya kaca spion tuk memastikan semua baik-baik saja. Tangannya yang bersimbah keringat dingin karena hampir menemui nasib meet and great dengan malaikat maut mencoba untuk relax, menggenggam pedal lebih kuat, dan mempertajam konsentrasi supaya lebih waspada.

Di pertigaan sial tadi mungkin menjadi hari paling mendebarkan, menjengkelkan sekaligus mencerahkan bagi Burhan. pasal emak-emak tak tau diri yang dari kejauhan 30 meter sebelum pertigaan belok ke kanan secara mendadak padahal lampu sein ke arah kiri. Burhan yang sudah berniat belok kanan mendapat suprise dari emak-emak sein kiri yang tak tahu menahu. 

Tapi Burhan bukanlah manusia perempatan yang akan sumpah serapah menghamburkan kosakata kebun binatang lengkap dengan nama latinnya. Justru, sekalipun hampir menjadi korban kecelakaan dahsyat Burhan bersyukur atas dua hal atas kejadian tersebut, pertama dia selamat, dan kedua dia belajar berdamai dengan prasangka yang liar.

Di lubuk rasionalitas alam pikirannya yang terdalam, sebagai manusia yang waras dengan syaraf otak yang masih tertata rapi. Bukanlah hal yang patut jika kita menimpali seseorang dengan frekuensi emosi yang sama-sama tinggi. kita musti berdamai dengan emosi yang terlanjur mendominasi tanpa prasyarat. Mengambil alih kemudi, membanting dengan akal pikiran yang jernih hingga mendapat konklusi yang haqiqi.

Semua tiba-tiba mendadak hening seakan terjadi penghening cipta di acara kolosal. kami semua di kelas ternganga, takjub. mata kami membelak berdecak kagum tak percaya yang juga memastikan bahwa Burhan tidak mampir di SRJ pasca insident nge-prank maut. Memang gila bukan kepalang hikayat Burhan yang satu ini. Dia yang sebagai victim mampu bertindak tenang dengan emosi yang stabil, tidak digiring nafsu untuk mempergolak amarah, bangkit dengan taburan kata-kata hikmat dan berakhir menjadi seorang filsuf.

Itulah ketua kelas kami Burhanuddin Nugroho.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ugoi

Asistent Burhan yang super epic

Majestic keadilan